Tulisan-tulisan itu hanya bisa diam, tidak satu pun pembelaan keluar dari mulutnya

Kanaya terkejut saat melihat halaman terakhir dari majalah yang dia baca. Matanya terbelalak saat dia membaca satu persatu kata yang tersusun dari tulisan itu.

Rasanya Kanaya tidak asing dengan tulisan-tulisan yang terpampang di majalah ini.Bagaimana tidak, ini adalah salah satu tulisan di blognya dan sekarang tulisan ini di muat dalam majalah tanpa persetujuannya bahkan nama penulis yang tertera bukanlah namanya.

Mbak….mbakkkk.” Kanaya tergopoh-gopoh mendekati kakaknya yang sedang asyik menyiram bunga.

“Ada apa sih? Kok kayak orang kebingungan aja?”

“Lihat ini deh mbak.” Kanaya menyodorkan majalah yang di bawanya.

“Hm…terus kenapa dengan tulisan ini?”

“Ini tulisanku, orang ini sudah menjiplak dan mengakui sebagai karyanya?”

“Hah..kamu yakin? Mungkin saja ini tulisan dia yang temanya mirip dengan tulisan kamu?”

“Aku yakin mbak…ini sama persis dengan yang aku tulis di blog cuman judulnya saja yang dia ganti, tapi isinya tetap tidak berubah”

“Hmm…jadi begitu? Terus apa yang akan kamu lakukan?”

“Tentu aku akan protes dengan semua ini, jelas-jelas orang ini sudah menjiplak karyaku?”

“Kamu yakin semua orang akan percaya? Lagipula tulisan ini sudah di terbitkan, jadi sama saja tulisan ini sudah diakui sebagai karyanya”

Tapi aku punya bukti bahwa ini karyaku, aku masih punya salinan aslinya,” Kanaya terus kukuh.

“Dek…kalau itu kamu jadikan sebagai bukti, bisa-bisa dia menyerangmu dan bahkan menuduhmu balik bahwa kamu yang menjiplak dia. Soal naskah asli itu gampang, tinggal copy paste beres deh. Semua orang bisa melakukannya”

“Terus aku harus bagaimana mbak? Membiarkan semuanya begitu saja”

“Sudahlah, ikhlaskan saja. Mungkin ini bukan rezekimu, dan satu pelajaran buatmu. Kalau kamu merasa karyamu layak, segera terbitkan!” Pesan kak Dewi sambil menepuk halus punggung Kanaya.

“Oh ya…satu lagi. Berhati-hatilah dalam menyimpan tulisanmu. Kalau merasa itu berpotensi, jangan kamu unggah ke dunia maya. Sudahlah jangan bersedih!!” kak Dewi meninggalkan Kanaya yang sedang meratapi nasibnya.

 Kanaya memandang tulisan di majalah dengan muka masam, terlihat jelas raut kekecewaan di kedua matanya.

“Andaikan tulisan ini bisa jadi saksi?”