Sambil menunggu pesanan nasi goreng yang belum mateng. Kayaknya asyik ni buat posting tentang kejadian yang membuat diriku sedih.
Dulu kayaknya pernah ada postingan tentang anak kecil yang akan saya kisahkan ini.
Singkat cerita, kemarin saya pulang kampung. Tujuan utamanya sih buat cari tukang pijat plus belanja batik. Sisanya berkunjung ke rumah sanak family.
Tiba di rumah bude, saya melihat keponakan saya itu lagi asik bermain masak-masakan, ketika melihat kami datang dia langsung bersembunyi dibalik paha tantenya. Setelah mendengar kisah, bahwa dia sekarang bersekolah disini. Hati saya langsung menciut, saya trenyuh sekaligus sedih. Aku mencoba mendekatinya dengan ala anak-anak, tapi dia menolak–menggelengkan kepala dan tidak berbicara. Tidak kehilangan akal, lagi-lagi aku berusaha mendekatinya. Kali ini lebih anak-anak. Alhamdulillah berhasil.
Awalnya aku tidak ingin sholat dulu melainkan sholat dirumah saja. Eh tiba-tiba dia menghampiri saya dan mengajak sholat bersama.
Matanya berbinar-binar dan begitu antusias. Sebelum masuk kamar mandi dia memelukku. Duh, saat itu aku merinding.
Rupanya si dia lagi butuh perhatian. Mendengar kisah tentang keponakanku ini rupanya sang ibu dan ayah tidak perduli dengan keberadaannya. Dia dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya, bahkan diumur dia yang 5 tahun dia bisa mencuci piring.
Menurut budeku, kata tetangga dia sering ditinggal sendirian oleh ayahnya hingga larut malam, tak jarang pula dia dipukuli. Hiksss 😦

Saat itu saya benar-benar merasa sedih. Ketika hubungan kedua orang tua bermasalah, kenapa harus anak yang menjadu korban?

Ketika kami mau pulang, terlihat ada raut kecewa diwajahnya. Dan aku menangkap perubahan itu.

Sampai sekarang mata sayu dengan binar meredup itu selalu aku ingat

Iklan