Suatu senja di Taman Kota, 1993

“Sahabat untuk selamanya…”

Kami saling mengaitkan dua jari kelingking ke udara sebagai janji tentang sebuah persahabatan.   Sejak saat itu aku dan Langit adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Di mana ada Langit di situlah aku berada.

“Lang, janji ya jangan tinggalkan aku walaupun kelak nanti kita masing-masing punya pasangan,” tanyaku iseng-iseng saat kami sedang bermain ayunan di taman.

“Aku janji.” Langit bangkit dan seperti biasa mengacak-ngacak rambutku. Aku tertawa riang memamerkan deretan gigi putihku kepadanya.

 ® ®® ®® ®® ®® ®® ®

Januari 2003

(Tidak) ada persahabatan yang benar-benar murni di antara laki-laki dan perempuan

Lisa—salah satu sahabatku yang lain pernah menasehati tentang persahabatanku dengan Langit. Tapi, dengan cueknya aku menyangkal dan bahkan mencibirnya.

“Aku nggak bakalan suka Langit,” jawabku saat aku dan Lisa sedang membahas tentang hubunganku dengan Langit.

“Kamu yakin?”  Todong Lisa.

“Aku tahu semua keburukan dia. Oleh karena itu aku nggak bakalan bisa tertarik padanya,” jawabku tanpa ragu-ragu.

“Hati-hati! Kamu nggak akan pernah tahu kapan cinta itu akan datang. Dan, aku rasa dari caramu melihat Langit tadi pagi. Aku merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari matamu.”

“Jangan ngaco ah. Kamu salah. Aku nggak pernah mengagumi Langit sedikit pun. Percaya deh.” Aku menepuk pundak Lisa.

“Terserah kamu lah Lun.”

Rekaman pembicaraanku dengan Lisa tadi siang masih saja terngiang-ngiang dalam pikiranku. Aku merenung. Benarkah aku menyukainya?

Aku mencoba merevisi kembali tentang apa yang telah terjadi selama persahabatanku dengan Langit. Sepertinya tidak ada yang istimewa. Benarkah itu? Benakku kembali berbicara.

Oke, aku akui memang terkadang tanpa sadar  sering memikirkannya. Aku akui juga bahwa Langit sekarang ini terlihat lebih keren. Langit memang telah berubah, bukan lagi seperti Langit yang tubuhnya kerempeng. Langit yang sekarang tubuhnya lebih berisi, rahangnya terlihat kokoh, rambutnya pun bergaya cepak klimis, tapi satu hal tidak berubah. Langit tetaplah jahil seperti yang dulu. Mungkinkah karena perubahan ini?

Satu hal yang aku benci saat ini adalah diam-diam semua perkataan Lisa terasa benar.

Aku tidak pernah berpikir bahwa di dalam persahabatan kami ini akan terbentuk sebuah ‘rasa’ yang tidak biasa. Aku juga tidak pernah tahu pasti kapan perasaan ini tiba-tiba saja menelusup sepi dalam hubungan yang kami sebut persahabatan ini.

Tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada Langit…

…dan dia tidak.

 

Agustus 2003

Ada yang aneh ketika aku memperkenalkan Anggita pada Luna, sahabatku. Senyumnya tak benar-benar tulus. Hey, tentu saja aku tau, bertahun-tahun aku sudah mengenalnya. Jadi aku tau benar apa yang disukainya, kejelekannya bahkan ekspresi wajahnya ketika dia menyukai atau membenci sesuatu. Dan aku juga tau, ekspresi wajahnya berubah ketika aku memperkenalkan Anggita sebagai kekasihku.

“Menurut kamu, Anggita gimana?” tanyaku pada Luna yang sedang mengaduk-aduk lemon tea-nya. Dia tersentak mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Kok tanya aku? Kami baru bertemu sekali. Tapi, kelihatannya anaknya baik,” jawabnya, kemudian menunduk lagi.

“Menurut kamu, dia pantas jadi istriku ?” tanyaku hati-hati. Masih memperhatikan ekspresi wajahnya yang benar-benar berubah. Muram.

Luna menggeleng. Kemudian tersenyum. Sedih. Lama Luna terdiam.

“Kamu bahagia, dengan dia?” akhirnya Luna bersuara. Aku mengangguk pelan.

“Aku merasa lengkap, dan dia melengkapi hidupku.”

“Langit, buatku, kebahagiaan kamu itu yang paling penting. Sebagai teman baikmu, aku nggak akan bisa bahagia kalau kamu sedih. Jadi, kalau kamu bisa bahagia dan merasa lengkap dengan Anggita, maka itu  cukup buatku.”

——–

                Ada yang tergores disini. Perih sekali. Pertanyaan Langit kemarin cukup untuk membuatku mengerti, bahwa rasa ini memang hanya ada padaku. Bukan padanya. Tapi, melihat binar matanya ketika bercerita tentang Anggita, membuatku tak tega untuk mengakui perasaan ini. Tapi aku juga tak akan sanggup menyaksikan pernikahan mereka dalam waktu dekat.

Entah, apa yang ada dikepalaku ketika akhirnya mengiyakan ajakan Lisa untuk menemaninya ke Jepang tepat pada saat pertunangan Langit dan Anggita. Muram dimatanya tak bisa disembunyikannya ketika aku mengatakan bahwa aku tak bias menghadiri pertunangannya.

“Apa artinya pertunanganku kalau kamu nggak ada?” ujarnya dengan amarah tertahan ketika aku meletakkan tiket keberangkatan didepannya.

“Yang paling penting kan ada Anggita,” aku mencoba melucu, menahan perih yang amat sangat ketika mengucapkan nama itu.

“Tapi kamu yang paling penting, kamu sahabatku, Lun!” tegasnya. Aku tersenyum. Mengusap pelan bahunya yang membuat jantungku berdetak tak karuan.

“Untuk seterusnya, hanya Anggita yang paling penting buatmu. Aku, tetap akan jadi sahabatmu. Sampai kapanpun.”

——–

                Aku menatap perih pada landasan dibelakangku. Hari ini, pertunangan Langit dan Anggita. Mengingatnya saja sudah membuat nafasku sesak. Aku tak akan pernah sanggup menyaksikan kebahagiaan sahabatku sendiri. Maka, ketika pertama kali Langit mengatakan padaku tentang rencana pertunangannya, tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakan Lisa untuk menemaninya ke Jepang. Bukan hanya berkunjung, tapi menetap.

Jika aku harus menyimpan rapat perasaan ini dari Langit, maka menghindar adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hatiku. Nanti, aku akan mengatakan pada Langit, bahwa aku tak akan pulang selama beberapa saat. Sampai segala rasa dihatiku menipis dan kemudian hilang. Sampai aku merelakan dia  mencintai orang lain. Meski Langit tak akan pernah tahu alasannya.

NB: tulisan ini hasil duet dengan @weirdaft