“Dengan nama Allah, saya bersumpah untuk menjalankan tugas dan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya. Tidak melakukan pelanggaran terhadap kode etik negara dan menaati setiap aturan yang ada.”

Seorang anak laki-laki duduk di depan sebuah kotak berukuran 14’ yang mengeluarkan gambar dan suara seorang lelaki berbadan tambun, berkacamata kotak, berambut putih dan berjas hitam lengkap sedang mengambil sebuah sumpah jabatan di bawah kitab suci kepercayaannya.

Sedari tadi dia terus memperhatikan tanpa beranjak dari duduknya, seperti menyaksikan tayangan kartun yang begitu menarik sesuai dengan kesukaan teman-teman sebayanya.

KLIK!

Tiba-tiba televisi itu tidak mengeluarkan suara, gelap. Sengaja dimatikan oleh seorang perempuan paruh baya yang berdiri di belakangnya. Anak laki-laki itu menoleh ke belakang, dan menatap wajah perempuan yang ternyata Ibunya dengan muka kecewa.

“Ibu, kenapa TV-nya dimatikan?” tanyanya.

“Kamu harus sekolah, Arman. Lagipula tidak pantas anak seusiamu nonton tayangan seperti itu.” Ucap Ibu dengan sabar. Dia sangat mengerti, bahwa anaknya memang memiliki keingintahuan yang cukup tinggi terhadap suatu hal.

“Memang kenapa Ibu? Aku hanya ingin tahu siapa menteri-menteri yang akan dilantik. Mereka kan memiliki komitmen untuk menyejahterakan kita, Bu.”

Ibu menghampiri Arman, duduk di sebelahnya, dan menggenggam pundaknya. “Tidak, Arman. Mereka hanya ingin memperkaya diri mereka sendiri. Liat saja beberapa bulan nanti, salah satu dari mereka aka nada yang masuk bui karena korupsi. Percayalah pada Ibu. Kamu pasti akan tahu.”

Arman, masih tidak mengerti dan masih banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, sebelum Ibunya menarik tangannya dan menyuruhnya untuk berangkat ke sekolah.

Apa benar kata Ibu bahwa wakil rakyat itu dilantik hanya untuk memperkaya diri sendiri?

Saat di sekolah Arman pun masih saja memikirkan perkataan ibunya. Dia masih saja penasaran dengan apa yang dikatakan ibunya tadi pagi. Rasa ingin tahunya semakin bertambah besar.

****

Saat pelajaran berlangsung, Arman masih saja berkutat dengan pikirannya sehingga tanpa dia sadari Pak Soleh–guru PKN itu sedang memperhatikannya.

“Arman! Dari tadi Bapak perhatikan kamu kok kayak orang melamun begitu. Ada apa?”

Arman terlonjak kaget, dia tidak menyangka bahwa pak Soleh sedang memperhatikannya.

 “Be..gini Pak, boleh saya tanya sesuatu?” tanya Arman sambil cengar-cengir setelah tertangkap basah melamun.

“Kamu mau tanya apa, Man?”

“Begini Pak, saya mau tanya apa benar wakil rakyat itu dilantik hanya untuk memperkaya diri sendiri?
Teman-teman Arman tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan. Beberapa dari mereka saling berbisik-bisik.

Pak Sholeh terkejut dengan pertanyaan Arman. Dia tidak menyangka bahwa Arman yang masih duduk dibangku SD itu akan menanyakan hal-hal berat seperti ini.  Pak Sholeh tersenyum dalam hati dia bangga melihat kekritisan yang dimiliki oleh Arman. Cerdas juga anak ini.

“Begini Man, setahu bapak kita memilih wakil rakyat dan para mentri itu ya untuk mewakiliaspirasi kita. Tapi, kalau memang ada yang menyeleweng itu memang sudah bukan kuasa kita. Namanya saja lidah, dia dapat lupa dengan apa yang telah dijanjikan.”

“Lalu, sampai sejauh mana aspirasi kita dijalankan pak?” tanya Arman lagi

“Bapak, agak tidak paham soal begitu itu Man. Mungkin ada baiknya kamu lebih banyak membaca saja.”

“Baik, Pak”  Arman terdiam dengan ribuan pertanyaan di otakknya.

****

Pagi ini matahari bersinar sangat cerah, Arman seperti biasa sudah bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah berpamitan dia pun melangkahkan kakinya dengan hati riang.

Sampai di perempatan jalan dekat sekolahnya, Arman berbelok. Rupanya hari ini dia sedang tidak ingin pergi ke sekolah. Dia berhenti di sebuah rumah kosong, mengeluarkan sebuah bungkusan dari koran dalam tasnya dan kemudian masuk ke dalam rumah itu.

Beberapa menit kemudian Arman keluar, seragam sekolah yang tadi melekat ditubuhnya sudah berganti dengan sebuah kaos berwarna putih kekuningan dan celana pendek berwarna coklat pudar. Rupanya Arman sudah mempersiapkan semua dari rumah. Arman memiliki suatu misi yaitu menuntaskan rasa keingintahuannya.

Hari ini dia berniat mengunjungi gedung di mana para wakil rakyat berkumpul. Dia masih sangat penasaran dengan apa sebenarnya yang dikerjakan para wakil rakyat itu.

Sampailah Arman di pelataran kantor di mana Anggota Dewan dan para Menteri melakukan tanggung jawabnya. Dengan penuh semangat dia berjalan melewati pos penjagaan.

“Permisi Dek, maaf pemulung tidak boleh masuk ke dalam,” tegur salah seorang security di kantor itu.

“Maaf Pak, saya Arman dan saya bukan pemulung. Saya kesini ingin bertemu dengan Pak Mentri.”

“Mereka sibuk dan nggak ada waktu untuk ngurusin hal macam beginian. Sudah sana pulang,” ujar salah satu security.

“Kamu ini ada-ada saja. Pemulung kok mau ketemu sama Pak Menteri,” salah seorang secuirity ikut berkomentar.=

“Tapi Pak, saya kesini memang mau ketemu dengan Pak Menteri. Sungguh saya bukan pemulung.”

“Ah, sudah. Kamu Nganggu orang lagi kerja saja,” salah satu dari mereka menghardik Arman.

Satu orang security menghampiri, dan mengajak Arman keluar dari pos Penjagaan.

“Nih saya kasih kamu uang untuk ongkos pulang. Saya tahu kamu ingin ketemu sama pak Mentri. Tapi, itu nggak mungkin Dek. Mereka terlalu sibuk untuk ngurusin orang miskin macam kita. Yang boleh ketemu mereka hanya kumpulan orang berdasi. Jadi, lebih baik kamu pulang saja.”

Raut wajah Arman yang semula terlihat begitu bahagia, karena kesempatannya untuk bertemu dengan para wakil rakyat yang dia lihat di TV, langsung berubah menjadi begitu sedih. Lalu dia ingat perkataan Ibunya kemarin,

“Bapak, sebelum saya pergi bolehkah saya bertanya sesuatu?”

“Apa, Nak?” tanya salah seorang security.

“Apakah di tempat ini memperbolehkan korupsi? Apa Bapak tau kisah para menteri yang melakukan korupsi di sini?”

Kedua security itu saling bertukar pandang, dan bersamaan melihat Arman. Tatapan mereka seakan-akan berkata, “Kamu tau, Nak, korupsi di gedung ini bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi…”

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”
(Surat untuk wakil rakyat-iwan fals)

 tulisan kolaborasi dengan @bellazoditama