Sebuah percakapan sederhana antara aku dan hati.
Kamu          : Apa yang terjadi denganmu? Kenapa belakangan ini wajahmu sangat murung.
Aku             : (Menghela napas panjang) Aku lagi patah hati. Kamu pernah merasakannya?
Kamu           : Aku?? Pasti. Bahkan berulang kali
Aku              : Bagaimana bisa? Kamu terlihat biasa saja.
Kamu           : Tentu saja bisa. Semua orang yang jatuh cinta, kemungkinan besar pasti akan mengalami patah hati. Bahkan, ketika kalian sudah menikah kelak.
Aku              : Jadi, setiap jatuh cinta. Kita harus bersiap untuk patah hati?
Kamu            : Tidak hanya saat kita jatuh cinta. Setiap kita membuka diri kepada orang lain. bersiaplah orang itu akan menyakiti kita.
Aku               : Hatiku sakit. Rasanya sama seperti ditusuk ribuan jarum.
Kamu             : Aku tahu. Aku pernah mengalami hal yang sama denganmu. Tapi, jangan biarkan rasa sakit itu terus menggerusmu. Kamu boleh saja marah, sedih. Tapi, janganlah terlalu lama. Kamu harus bisa bangkit kembali.
Aku               : Aku ingin dia juga merasakan sakit yang sama.
Kamu             : Dia juga mengalami sakit yang sama denganmu. Tapi, mungkin saja dia tidak pernah menampakkannya. Percayalah, dia sama terlukanya denganmu.
Aku                 : Lalu, aku harus bagaimana?
Kamu              : Maafkan dia. Biarkan hatimu sembuh dengan memaafkan.
Aku                 : Bolehkah, Aku masih merindukannya?
Kamu             : Tentu saja boleh. Rasa yang tersimpan begitu lama memang tidak mudah untuk hilang. Perlahan, kamu pasti akan bisa melupakannya. Dengarkan aku, “Kejarlah mimpi panjangmu, maka dia akan merasa bahagia ketika melihatmu bahagia,” Dan itulah yang aku sebut dengan cinta sejati.”
Aku                 : Benarkah?
Kamu              : Percayalah padaku

Cinta sejati adalah saat kau membiarkan orang yang kamu sayangi hidup bahagia