“Aku ingin ini berakhir!” Katamu dingin di saat pertemuan kita pagi itu.
Aku tertunduk, tak berani menatapmu. Tak ingin tangis ini tiba-tiba pecah.
“Jawablah..” Katamu lagi.
“Apa yang harus aku jawab. Toh ucapanku sudah tidak berarti lagi depanmu,” aku masih tertunduk.
Kamu terdiam. Hening–tak satupun dari kita bersuara.
Aku menghela napas panjang. Dengan menahan tangis, “baiklah. Akhiri saja jika itu maumu..”
Kamu mendongak, menatapku lekat. Matamu mencari tahu kebenaran yang baru saja aku katakan.
“Segampang itu?” Tanyamu.
“Bukankah itu yang kamu inginkan? Lepaskan aku dan biarkan aku bebas.”