“Aku ingin kita bertemu, bisa?”

“Sekarang? Hmmm…apa nggak bisa ditunda besok?” terdengar suara helaan napas di seberang.

“Sebentar saja, aku janji tidak akan lama. Aku rindu…” aku tak meneruskan kata-kataku.

“Maaf Dear, aku sibuk sekali hari ini. Ada beberapa deadline yang harus aku kerjakan.”

“Jadi, kita nggak bisa bertemu? Ya, sudah. Maaf aku sudah mengganggu waktumu.”

Pembicaraan terhenti tanpa saling mengucapkan salam.

Rindu mendongak ke langit. Berharap agar tangisnya tidak meledak saat ini. Dia tidak mau terlihat seperti orang yang sedang patah hati di tengah kafe yang ramai oleh pengunjung.

Ada rasa sedih menyesaki dadanya saat ini.  Jauh-jauh dia datang ke tempat ini untuk bertemu dengan lelakinya, nyatanya pria itu tidak punya waktu untuk sekedar bertegur sapa dengannya.

Ah, Rindu merutuki kebodohannya. Cepat-cepat dia menghapus air mata yang mulai berlarian dari kedua kelopak matanya.

Dia mengeluarkan telepon genggamnya, menuliskan sebuah pesan untuk lelakinya..

Kepada Pria yang punggungnya mulai menjauh

Maaf, aku tak bisa lagi melanjutkan kisah ini

 Aku tak mau menjadi seorang pecundang yang terus saja mencintamu

…dan kamu tidak

Maaf, hatiku terlalu baik untuk kau sakiti lagi

Silahkan kamu kemasi bayanganmu dari benakku

Karena besok tidak akan ada lagi namamu yang tertulis di hatiku.

Maaf, kisah hidupku tak lagi tentang kamu

Proyek: writerchalleng

Iklan