Sore ini, hujan kembali bertandang ke kotaku. Tidak terlalu deras, tapi rinainya mampu membasahkan tanah. Langit yang tadinya biru, mulai diselimuti arakan awan kelabu, memberat; tumpahlah semua kesedihan.
Tanganku sejenak terulur, menadah bulir-bulir air dari langit, membiarkannya mengisi ceruk tanganku.
Kilasan wajahmu tiba-tiba hadir di pelupuk mataku. Dan, rindu tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
“Aku suka hujan,” katamu saat kita sama-sama terjebak oleh hujan deras.
Aku menoleh ke arahmu yang sedang asyik menadahkan tangan.
“Apa yang membuatmu suka dengan hujan?” Tanyaku.
“Karena hujan membuatku damai, sama seperti saat berada di dekatmu,” jawabmu sambil menatapku lekat.
Pipiku memanas, segera kupalingkan wajah. Berharap kamu tak menemukanku yang tersipu.
Mungkin saja sekarang pipiku sedang merona karena malu.

Blarrrr,
Petir menggelegar, membuatku terhentak dan kembali ke masa depan. Kenangan tentangmu tiba-tiba menguap.

…Rasa nyeri itu datang lagi.

Harusnya aku tak memandang hujan, karena hari ini hujan kembali membawa kenangan tentangmu.