“Anda yakin mau melakukan ini?” tanya seseorang pria berpakaian hijau yang mengenakan tutup kepala dan juga masker.

Aku mengangguk, walaupun rasa ragu mulai menyergap di dada. Aku tahu, apa yang akan kulakukan ini beresiko tinggi.

“Anda sudah tahu apa efek sampingnya?” tanya pria itu sekali lagi.

 “Iya,” jawabku lirih.

“Baiklah, kalau ini yang anda kehendaki. Sebentar lagi, seorang perawat akan mendorong anda ke ruang operasi. Banyaklah berdoa semoga, operasi ini berjalan lancar.” Pria bermasker itu menepuk pundakku halus.

Rasa takut mulai membayang-bayangi diriku, ketika seorang perawat wanita mulai mendorong tempat tidurku menuju ruang operasi yang letaknya tidak jauh dari ruang perawatan.

Dadaku berdegub semakin kencang, tak kala kulihat tulisan RUANG OPERASI semakin dekat pelupuk mata.

“Aku ingin semua ini berakhir.”

Mendadak ucapan Dani beberapa lalu terngiang-ngiang di benakku. Sedetik rasa takut yang merebak di dada perlahan sirna berganti sebuah keberanian.

Tak apa aku kehilangan ingatan, setidaknya hatiku tidak terlalu sakit lagi.