“Aku belum siap dengan ini,” ujarnya terisak.

Aku mendekatinya perlahan; tanganku membelai halus rambut ikalnya. Aku sengaja tak menjawab, membiarkan dia larut dalam emosinya sejenak.

Perlahan kubawa dia dalam dekapanku. Membiarkan tangisnya tumpah ruah di dada. Kurasakan tubuhnya bergetar. Ah, hatiku serasa diremas-remas.

“Aku tahu ini berat bagimu, sayang. Begitu pun diriku.” Aku mengambil napas sejenak, “tapi kenyataannya semua ini harus kita jalani.”

“Kalau aku merindukanmu bagaimana?” dia mendongak dengan mata penuh air mata.

“Telepon.” tanganku menyentuh kedua pipinya, menghapus air mata yang berjatuhan di sana.

“Kalau aku rindu untuk melihatmu…memelukmu…” dia tak bisa melanjutkan perkataannya. Suaranya perlahan ditelan oleh derasnya air mata.

“Sayang, dengar. Kalau kamu rindu, kamu bisa kapan pun menghubungiku. Aku akan selalu menerimanya, sesibuk apa pun itu. Percayalah, ini memang tidak mudah.” Aku menarik napas dalam-dalam, sekadar meredakan dada yang mulai terasa berat, “tapi, ketika kamu percaya bahwa tak ada yang berubah dari hubungan kita semua pasti terasa mudah.”

 Karena jarak hanyalah jeda yang memisahkan pertemuan

http://favim.com/image/499002/
http://favim.com/image/499002/