Ada sepi dalam diammu

Menyisakan seribu tanya padaku

Adakah luka telah menggores hatimu?

Tuan, tidakkah kau ingat bagaiman dulu jemari kita saling menggenggam di bawah rinai hujan?

Lalu, kita berdua saling menertawai takdir yang membuat kita terpelanting dari hubungan asmara yang kita rajut

Katamu:

“Waktu itu seperti putaran angin puting beliung, melibasmu dengan cepat tanpa ampun. Jadi, selagi masih ada waktu kita nikmati saja kejalangan ini.”

Dan, nyatanya kini waktu telah benar-benar tak mempertemukan kita dalam satu garis

Melepaskan genggaman erat dari jemari-jemari  yang membisu

Kenangan itu kini serupa nisan batu, sesekali aku bertandang untuk membersihkan debu di setiap sudutnya

beautiful-city-cool-free-Favim.com-665823.jpg