“Kamu perempuan dalam mimpiku?”

Aku sedang menikmati secangkir expresso ketika seorang laki-laki berambut berantakan seperti baru bangun tidur tiba-tiba menghampiri dan menanyakan sesuatu yang terdengar aneh. Tentu saja apa yang dia ucapkan barusan terdengar aneh untuk seseorang yang baru dikenal.

“Ya?” tanyaku dengan sunggingan senyum yang dipaksakan. Terus terang perasaanku sedang tidak karuan sisa pertengkaran dengan Andre –kekasihku semalam.  Dan, untuk menghormati lelaki aneh ini aku masih berusaha seramah mungkin.

“Kamu perempuan di dalam mimpi-mimpiku,” ujar lelaki yang sebenarnya cukup tampan itu sekali lagi. Lalu, tanpa diperintah kini lelaki itu duduk tepat di hadapanku.

“Kamu aneh,” ucapku asal. Tujuanku hanya satu. Aku ingin lelaki ini segera pergi.

“Biar saja kau bilang aku aneh. Tapi, aku yakin kau adalah perempuan dalam mimpiku.” Mata hitam bulatnya langsung menatapku.

Aku mulai jengah dengan perkataannya yang terlihat meracau. Aku menyambar ponselku dan berniat untuk pergi. Sebuah tangan menarik tangan kananku. Aku menepisnya dan berjalan pergi.

“Berapa aku harus membayarmu agar kau mau menjadi kekasihku?” Seru lelaki itu.

Damn! Lelaki ini memang benar-benar aneh. Setelah tadi mengira aku adalah perempuan dalam mimpinya. Kini, tiba-tiba dia menanyakan berapa hargaku. Sialan.

Bisa saja aku menumpahkan semua isi cangkirku di kepala. Namun, mengingat permintaan Andre semalam membuatku mengurungkan niat.  Aku berbalik arah dan menghampirinya.

“Berapa kamu akan membayarku? Aku butuh modal untuk nikah.”

Coffee Girl

Iklan