love-hand

“Kamu nggak risih jalan sama aku?”

Aku baru saja hendak membuka daftar menu yang baru diletakkan pelayan di atas meja, ketika Nina melemparkan pertanyaan itu. Aku mencoba tak menggubrisnya dan tetap membuka lembaran daftar menu itu.

“Han…”

“Hmm,” jawabku pendek.

“Kok nggak dijawab sih?” Tanya Nina.

“Memang apa yang harus dijawab?” Aku memiringkan kepalaku ke arahnya. “Aku lapar. Kamu mau aku pesankan sesuatu?”

“Aku nggak lapar,” jawab Nina lirih.

Aku merasakan perubahan suara Nina. Kini gadisku tak nampak bersemangat ketika aku menanyakan dia mau makan apa.

“Kamu yakin nggak mau pesan apa-apa?” tanyaku hendak memanggil pelayan.

“Iya,” jawabnya pendek.

“Kamu kenapa sih Sayang?” Aku mengacak-acak rambut ikalnya yang mulai panjang melebihi bahu.

Dia memiringkan kepalanya ke arahku. “Kamu nggak malu jalan sama cewek gendut seperti aku?” Nina menghela napas, “pakaianku juga nggak segaul mereka, terus….”

Aku meletakan tangan di bibir Nina sebelum gadis itu kembali melanjutkan racauannya. “Ssst, dengarkan aku Sayang. Aku mencintaimu bukan karena fisikmu, tapi aku mencintaimu karena kamu melengkapi kesempurnaanku. Lagipula cintaku sudah mentok di kamu.” Aku mencubit cuping hidung kekasihku.

Ada rona merah di pualam pipinya yang bulat yang membuatnya terlihat menggemaskan.

Karena cinta tak butuh banyak alasan.