Sebenarnya pengalaman ini sudah agak basi untuk dijadikan postingan, tapi berhubungan ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan untuk saya. Jadi, tak ada salahnya saya menuliskannya di sini.

Saya bisa dibilang ‘anak mami’ kemana-mana seringkali harus ditemani orang tua. Maklum kondisi kesehatan saya membuat kedua orang tua sering khawatir jika berpergian seorang diri. Sebenarnya kedua orang tua saya bukan orang yang super protektif. Mami dan papi masih memperbolehkan saya berpergian jauh, asal jelas siapa yang mengajak. Intinya Mereka hanya nggak mau terjadi sesuatu terhadap saya.

Dari kecil saya nggak pernah ikut yang namanya Pramuka atau Kemah. Bisa dibilang buta dengan kehidupan alam luar. Ketika teman-teman saya sudah banyak yang menginjakkan kakinya di gunung Bromo, saya masih main-mainnya di mall. Sempat kesal, tapi ya dinikmati saja deh.

Ternyata kesempatan itu datang juga. Untuk pertama kalinya saya ‘caving’ alias menjelejah goa. Seumur-umur belum pernah masuk goa atau mendatangi tempat-tempat alam begitu, kecuali pantai. SIngkat cerita, waktu itu diajak mami pergi ke Jogja bersama rombongan teman-teman sekolah. Waktu itu sempat baca agenda tournya yaitu menjelajah Goa Pindul.

Wow, saat itu saya senang karena buat saya itu akan menjadi pengalaman pertama. Menjelajah alam. Sampai di tempat tujuan, awalnya mami sempat berat hati untuk mengijinkan saya ikut acara ‘caving’ ini, tapi saya bilang sama mami “Sudah jauh-jauh kesini kalau nggak masuk goa rugi. Saya janji nggak bakal ada apa-apa.”

Mami pun mengijinkan dengan syarat aku harus didampingi salah satu teman mami. Oke, saya setuju yang penting saya boleh masuk goa. Perjalanan masuk goa ternyata nggak mudah. Kita diharuskan melepaskan alas kaki yang kita kenakan, lalu berjalan cukup jauh sambil membawa pelampung yang ukurannya lumayan besar dan berat, tak lupa sebuah jaket keselamatan yang akan menjaga kita selama menjelajah Goa. Dan, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan beban yang agak berat sampailah kita di ujung sungai, tapi jangan senang dulu. Kita harus menuruni tangga yang terjal dan agak licin sambil membawa karet pelampung. Cukup menyulitkan sih.

Yay, akhirnya saya berhasil turun dengan selamat sampai di ujung sungai dan bersiap meletakkan ban pelampung di atas sungai. Sedikit informasi bahwa menjelajah Goa Pindul ternyata harus mengikuti aliran sungai yang mengalir di bawah Goa, jadi itulah mengapa kita harus memakai jaket keselamatan dan membawa pelampung. Sebenarnya agak takut juga sih, tapi berhubung goanya sudah di depan mata akhirnya memantapkan diri untuk mengikuti petualangan ini.

Saya sudah duduk manis di atas pelampung sambil menunggu teman-teman lain yang akan menjelajah bersama. Selama menjelajah goa kami disarankan untuk tetap bersama, saling bergandengan agar tidak terlepas. Selama menjelajah saya cukup menikmati, berusaha meresapi ciptaan Tuhan yang terpampang di sini. Sambil tak lupa berdoa dulu, takut terjadi sesuatu.

Zona pertama yang dilewati adalah zona terang. Di Zona ini sinar matahari masih bisa menembus dan bisa menjadi penunjuk arah untuk kita menjelajah. Ketika mendongak ke atas, saya benar-benar kagum. Stalagmit dan stalagtit berukuran besar menyambut kami. Ya Allah Indah banget, dan rasanya hening banget. Zona kedua yaitu Zona remang-remang di mana sinar matahari masih bisa menembus dan masih ada sedikit cahaya. Di zona ini ada banyak ribuan kalelawar di dalamnya. Beruntung tidak satupun dari mereka mengganggu kami. Udara di sini mulai terasa dingin. Saya mencoba menikmatinya dengan memejamkan mata, merasakan semuanya dengan hati saya. Nyess.

Zona ketiga adalah zona gelap, di mana tidak ada cahaya matahari yang menembus zona ini. Rasanya gelap, seperti seorang buta yang kehilangan penglihatannya. Seharusnya saat di zona gelap kita berhenti sejenak, menutup mata, menikmati ciptaan Tuhan, namun berhubung sedang ramai pengunjung, jadi tidak sempat untuk merasakan kegelapan itu sejenak.

Buat saya yang seumur-umur masuk goa, ini adalah pengalaman yang tak terlupakan. Bahkan, ketika keluar dari goa saya masih terheran-heran, dada saya menghangat karena bahagia. Ya. itulah petualangan pertama saya yang tak terlupakan. Dari perjalanan menjelajah goa saya belajar tentang satu hal:

Bahwasanya dalam hidup ada ujian yang harus kita lewati. Sama halnya dengan menjelajah zona gelap tanpa cahaya. Siapa yang bersabar dalam menjalaninya, akan ada kebahagiaan yang menanti di luar sana.

 A moment like this Some people wait a lifetime for a moment like this