Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang kisah ini. Hanya saja waktu tak memberi kesempatan dan, kebetulan tema hari cocok sekali. Jadi, tak ada salahnya untuk menceritakannya.

Kalian sudah siap?

Beberapa dari pembaca mungkin telah mengetahui tentang riwayat kesehatan saya. Kalau nggak salah saya pernah membahasnya dalam sebuah postingan di blog ini.

Buat saya seseorang yang paling berjasa selain kedua orang tua adalah Prof. Tina Prasodjo. Beliau adalah salah satu dari sekian Dokter Jantung Senior yang ada di RSUD di Surabaya. Jabatan beliau saat itu adalah Kepala Bagian Jantung Anak.

Sejak lahir, saya mengalami kelainan jantung bawaan. Karena terbentur masalah biaya dan usia saya yang terlalu kecil membuat kedua orang tua lebih memilih untuk rawat jalan. Hingga suatu hari, orang tua saya kembali mendapat surat panggilan dari RS yang mengharuskan agar saya kembali melakukan pemeriksaan.

Hasil dari pemeriksaan menunjukkan bahwa lobang pada jantung saya semakin membesar dan ditambah penyempitan pada pembuluh paru-paru. Jika tidak segera dioperasi, akan berisiko terhadap perkembangan diri saya. Mau tidak mau operasi harus segera dilakukan.

Orang tua saya bimbang terlebih lagi kondisi keuangan keluarga yang belum stabil. Namun, Allah mempergunakan kekuasaannya. Kami dipertemukan oleh Prof. Tina. Beliau adalah dokter yang sedikit galak, namun berhati mulia. Beliau meminta ibu saya menarik berkas di loket umum. Sejak saat itu saya tidak perlu mengantri.

Seminggu menjelang operasi telah tiba. Segala rangkaian tes juga telah saya lakukan. Hasil pemeriksaan menyatakan kondisi kesehatan saya telah siap untuk di operasi. Namun, lagi-lagi kami mengalami kesulitan. Dua hari menjelang operasi, tiba-tiba pihak RS membatalkan jadwal. Saya diminta untuk kembali pulang.

Ketika kami sudah selesai merapikan pakaian dan hendak pulang. Pihak RS tiba-tiba datangΒ  dan memberitahu bahwa operasi saya tetap dilakukan. Belakangan kami baru tahu bahwa ternyata Prof. Tina-lah orang yang memperjuangkan agar saya tetap dioperasi sesuai jadwal. Bahkan, menurut asistennya Prof. Tina sampai menjamin diri saya dengan jabatannya πŸ™‚

Yang membuat terharu, Prof. Tina membuat acara syukuran setelah saya selesai di operasi :’)

Setelah operasi, beliau selalu menengok kondisi saya selama di ICU. Di akhir kunjungan Prof. Tina selalu memberi saya semangat, bahkan ketika saya harus melakukan operasi yang kedua. Beliau senantiasa mendampingi saya.

Saya masih ingat ucapan beliau kepada saya saat terakhir kontrol:

“Kamu jadi anak saya saja. Nanti masuk kedokteran biar bisa menggantikan saya”

Ah, saya merindukan Prof. Tina. Merindukan segala kegalakannya dan ucapannya yang selalu menguatkan saya.

Kepada Prof. Tina Prasodjo. Di mana pun beliau berada.

Terima kasih atas perjuangan Anda.Β  Gadis kecil yang dulu anda perjuangkan hidupnya. Kini telah tumbuh menjadi gadis yang sehat dan kuat.

Iklan