20131203-173904.jpg

Sumber gambar: pinterest

“Sayang, temenin aku ke nikahan Putri ya,” tukas Dimas saat kami istirahat makan siang.
“Kapan?” Tanyaku malas-malasan.
“Besok. Dandan yang cantik ya.” Dimas mencubit lembut daguku.
Aku menggembungkan pipi tak suka.
***
Aku mematut di depan cermin. Memastikan tak ada yang salah dengan riasan dan gaun halter neck berwarna merah marun yang kukenakan. Semua sempurna.
Tinggal menunggu Dimas menjemput.
Sejujurnya, hari ini aku ingin menghabiskan waktu di kamar saja. Menyalakan pendingin kamar, lagu romantis, dan sebuah novel roman yang baru aku beli rasanya lebih menyenangkan. Namun, ajakan Dimas untuk menemaninya ke resepsi Putri tak dapat kutolak. Soalnya Putri adalah sahabat Dimas dan kebetulan aku juga mengenal gadis itu. Jadi, kali ini aku harus sedikit menekan egoku.
Tin…
Bunyi klakson. Aku bergegas keluar kamar menyambut Dimas yang menjemputku.
***

Aku berbaur dalam barisan beberapa wanita dan lelaki yang tengah berbisik-bisik. Baru saja MC mengumunkan bahwa sebentar lagi buket bunga akan dilempar. Aku tak mau ketinggalan.
Kali ini aku harus dapat.

“1…2…3”
Rangkaian bunga dilempar.
Aku melompat setinggi mungkin. Berusaha meraih buket bunga yang terlempat ke arahku. Namun, sebuah tangan dengan cepat meraihnya. Gadis bergaun merah muda itu lebih beruntung dariku.

Gagal lagi

Aku menghampiri kekasihku dengan langkah gontai. Dimas memberiku senyuman. Dia selalu hapal kebiasaanku yang tak pernah melewatkan acara pelemparan bunga.
“Gagal lagi?” Tanyanya sambil mengulurkan segelas coktail padaku.
“….”
Dimas menyentuh rambutku perlahan. “Itu cuman bunga. Jangan dirisaukan.”
Aku tak menyahut. Kutenggak coktail itu sampai habis untuk menghilangkan rasa kecewa.
Tiba-tiba Dimas merengkuh pinggangku. Lalu, dia membisikkan sebuah kata yang membuat persendianku melemas.
“Hari ini kamu boleh gagal mendapatkan buket itu. Tapi, bulan depan giliran kita yang akan melemparkannya.”