20131216-211357.jpg

Aku menengadahkan tanganku. Membiarkan daun-daun berwarna oranye yang berjatuhan memenuhi ceruk tanganku.

Aku sangat suka musim gugur.

Rasanya menyenangkan melihat dedaunan beraneka warna berjatuhan dari langit. Belum lagi aroma khas daun kering yang bersentuhan dengan tanah. Menenangkan.

Hari ini seperti biasa, sepulang kerja aku mampir ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari kantor. Selain untuk menikmati udara sore. Ada hal yang lebih penting.

Aku menunggu seseorang.

Hari ini kami berjanji untuk menghabiskan sore bersama di sini. Lelaki itu tahu bahwa aku tergila-gila dengan daun-daun yang menguning.

“Hei, gadis musim gugur,” suara lantang seseorang menyerbu pendengaranku.
Aku menoleh. Adrian berdiri di belakangku dengan senyuman lebar.
“Kamu terlambat.” aku menggembungkan pipi.
“Maaf. Ada urusan kantor yang harus aku selesaikan.” Lelaki itu menjatuhkan dirinya di sampingku.
“Hmm,” gumamku.
Adrian mencubit pipiku lembut, lalu tanpa berkata lelaki itu mencuri bibirku. Memagutnya lembut.

Aku tersentak. Namun, kubiarkan bibir itu memaksa lebih masuk. Kami berciuman cukup lama. Hingga Andrian melepaskan pagutannya.

“Aku harus pergi. Lily menungguku.” Andrian beranjak dari tempat duduknya. Lelaki itu mengelus ujung rambutku. “Hati-hati di jalan.”

Tapi, aku masih rindu
Suaraku tercekat di tenggorokan.

Bagi Adri aku tak lebihnya sebuah persinggahan.