“Daripada novelmu nggak terbit-terbit. Mending berhenti nulis aja.”

Kemarin, seorang teman mengatakan itu pada saya. Walaupun dengan nada setengah bercanda. Saya tahu bahwa itu adalah sebuah sindiran.

Sebenarnya itu bukan kali pertama saya disindir soal kesukaan saya sama dunia tulis-menulis. Beberapa orang terdekat mengganggap bahwa aktivitas menulis itu nggak penting. Apalagi kalau yang ditulis isinya tentang cinta. Katanya itu cuman bikin dirimu galau saja.

Err….

 Saya sih cuek aja dengan sindiran seperti ini. Sudah biasa soalnya.  Sudah kebal kuping ini dengan cibiran seperti itu. Maklum, orang menyindir saya ini nggak tahu apa sih manfaat menulis😀

Ketika kumpulan cerpen saya terbit ada sebuah komentar dari seorang keluarga yang cukup bikin sakit hati. Waktu itu dia baru selesai membaca cerpen saya yang berjudul “Kugadaikan tubuhku.”

Responnya: “Kamu nyontek darimana sih? Masak ini hasil pemikiranmu?”

Saat itu saya cuman nanggapin dengan senyuman. Percuma saja menerangkan bahwa itu hanyalah sebuah imajinasi.  Memang sih cerpen yang saya tulis agak dewasa.  Jadi, mereka mengganggap saya belum berpengalaman. Mereka lupa bahwa ada internet, film, atau cerita teman yang bisa membuat tulisan itu menjadi sempurna.

Ah, tapi sudahlah.

Biarkan saja mereka ngomong tentang apa saja. Saya akan tetap menulis apa pun yang saya suka. Sebab bagi saya menulis adalah kebutuhan. Jika akhirnya saya menerbitkan karya, maka itulah hasil kerja keras saya yang nggak perlu mereka tahu🙂