20131222-204214.jpg

“Selamat hari Ibu. Semoga mama selalu sehat.” Aku memeluk dan mencium pipi mama. Lalu, bergelayut mesra di pundak wanita yang sudah membesarkanku.
“Terima kasih. Jangan cuman karena hari Ibu aja kamu meluk mama begini,” goda mama.
Aku memberengut.
“Rie. Kalau kamu sudah berkeluarga nanti. Jangan lupa sama mama ya.” Mama menarik cuping hidungku.
“Insya Allah. Rie minta doanya aja agar bisa selalu berbakti sama mama.”
“Selalu.” Mama mencium kedua pipiku. “Kamu ganti baju ya. Terus ikut mama ke rumah Tante Ros.”
*****
Ketika mama bilang akan mengajakku ke rumah tante ros. Aku mengira kami akan benar-benar berkunjung ke sebuah rumah. Ternyata mama mengajakku ke sebuah panti jompo. Kami berdua duduk di ruang tunggu. Menunggu perawat membawa tante ros.
Aku terdiam. Memandang sekeliling di mana ada beberapa perempuan paruh baya sedang asyik merajut.
“Ma, semua orang yang di sini nggak punya keluarga?” Tanyaku.
Mama menoleh dan tersenyum. “Mereka memiliki keluarga, tapi ada beberapa yang memang sebatang kara.”
“Lalu, kenapa mereka ada di sini?”
Mama baru saja akan menjawab pertanyaanku ketika seorang perawat datang dengan seorang wanita berambut putih pendek yang duduk di kursi roda.
“Mira. Apa kabar?” Sapa wanita itu ramah.
“Baik. Ros. Kenalkan ini Arini putriku.”
Aku bersalaman. Tante Ros menyunggingkan senyuman.
“Anak-anak nggak ada yang berkunjung?” Tanya mama.
“Semua berubah Mir. Anak-anak sudah pada sibuk. Kamu beruntung punya anak yang menemanimu.” Tante Ros berkaca-kaca.

Dadaku sesak melihat pemandangan ini. Di kala semua orang merayakan hari Ibu. Malah ada anak yang menelantarkan Ibunya.

Iklan