1499685_10202749613677925_1484115692_n

“Andaikan otak punya fasilitas Recycle Bin, kayaknya gue bakal sering-sering make deh,” ujar Risna –teman kantorku yang juga merangkap sahabat.

Sore itu, kami sedang menghabiskan waktu sambil menunggu hujan reda di sebuah coffe shop letaknya lima blok dari tempat kami bekerja.  Di atas meja dua cangkir teh yang masih mengepul baru saja diletakkan oleh pelayan.

Aku tergelak mendengar pernyataannya.  “Otak lo mah isinya mesum mulu,” cibirku. Aku mengangkat cangkir yang masih mengepul, menghidu aromanya, dan menyesapnya perlahan.

“Sialan lo. Mesum mah sudah bawaan orok,” dengus Risna. “Maksud gue, kan enak tuh kalau otak kita sudah kepenuhan tinggal kita tekan delete All. Beres.”

Aku ngikik, “Kalau gue mah ogah. Meskipun banyak kenangan pahit yang tersimpan. Gue nggak mau menghapusnya.”

“Termasuk soal Rudi?” tanya Risna perlahan sambil mengamati perubahan wajahku.

 Rudi, nama yang sempat membuatku ingin mengakhiri hidup.

Aku menghela napas, lalu tersenyum pada Risna, “Itu memang menyakitkan. Tapi, kenangan itu akan selalu gue simpan. Karena itu akan membuat gue lebih ‘hidup.”